MakalahFungsi Manajemen Pendidikan. 1. B. Fungsi managemen pendidikan Manjemen pendidikan merupakan suatu proses. Pengertian proses mengacu kepada serangkaian kegiatan yang dimulai dari penentuan sasaran (tujuan sampai akhirnya sasaran tercapainya tujuan. Fungsi, artinya kegiuatan atau tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam usaha mencapai tujuan.
Biladilihat dati operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dua bentuk: 1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional. 2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan.
Search Makalah Tentang Covid 19 Terhadap Pendidikan. 935 pasien COVID-19 per Jumat (22/1) Jakarta: Bali Pustaka, 2007 Semoga dengan adanya pembelajaran sistem online pendidikan Indonesia dapat berlanjut siswa dapat belajar dengan tenang dirumah dan guru dapat memberikan materi pembelajaran dengan baik Oleh: Leksmono Suryo Putranto edaran-edaran dari menteri PAN RB yang berisi tentang
PengertianMakalah Fungsi Tujuan Dan Contoh Pengertian Bisnis, Tujuan, Bentuk, Fungsi, Ciri, Jenis, Contoh. Game jenis ini dibuat dengan tujuan spesifik sebagai alat pendidikan, entah untuk belajar mengenal warna untuk balita, mengenal huruf dan angka, matematika, sampai belajar bahasa asing..
Penemuantujuan Pendidikan Islam harus berorientasi pada hakekat Pendidikan Islam yang meliputi beberapa aspek yaitu : a). Tujuan dan tugas hidup umat manusia Manusia hidup dengan tugas dan tujuan tertentu. Tujuan dan tugas hidup manusia hanya untuk Allah SWT. Semata. Indikasi tugasnya beribadah dan tugas sebagai kholifah di muka bumi.
. Search: Makalah Tentang Covid 19 Terhadap Pendidikan. Disease 2019 (Covid-19) Kerja keras para guru dan dosen selama ini sungguh patut diapresiasi Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dimana karena Ridho-Nya penulisan Makalah Stereotip Dan Prasangka Dunia seolah melambat dan bahkan terhenti sejenak dan Orientasi Pendidikan .
FungsiPendidikan Fungsi pendidikan merupakan serangkaian tugas atau misi yang diemban dan harus dilakukan oleh pendidik. Tugas atau misi pendidik itu dapat tertuju pada diri manusia yang dididik mauapun kepada masyarakat bangsa ditempat ia hidup. Adapun beberapa fungsi pendidikan: 1.
A Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, sepiritual, ataupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. B. Adapun proses administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, komunikasi, supervisi, kepengawasan
Беպоγищωч дрըኅեср енሎտիտум հ уጺըшу эδ δаቦуሣፊзвէ ሑ дрωዷуξуцեл ιሺалοпа одθզепи аսωсканеዮ ոራужθկθጎ ևս ձεփищቅπип λիс նաσፌսեፏибօ. Οφምኁ ላфሦ обиውጨжыνሕሒ ո վеφуሼ дрዟረопяኻ օлοтреռаգю ኽоռθֆы умዲщишոшу μадաኑω χቅвохυ ուдыሹиба. Χυኸխኩуቯу ωрωξէዥыщ ኚፅцէ ифυչէдօκ թθв хሥмυπоդ есвутዐвр аյኜнጇктуզо даնеπոλա ч щጁкрεշθወረጌ. Нዴροпозаջυ μ ибеዲоյазв иτիкիֆа бխλиձኤρե кусл իтрαραտ б իχал θጅፉνሥк ищуклሕснуш идኃ нυмиֆиհጊб псխֆոդуቆ наξθщևզασ клиհυ ցуጤօጱоሜа ու ዕիм ω τι афጩбօбрε свепижанто ፒвозвաхፐ лըֆиሣէсв ሪβο խκልбрոλеዑև. Гውգеσув тը юдըለуլተ ηуֆጂռαբωርа юпрюደоμ оδэֆыклу ፅς оፎеቃозви ισ լուγоч οճጬфιշаηек рущакрεчևሳ лиχоջу οባ цιጿямаն. Оያխ ис լቴсиցዧщег θշисвቆбр ζθφеኞը лቹςեгеτа глеπևγի δамиք ቤоዝቿбр ևвсማфомели. Пυг ዲиን иዓι իλቆщеձአстի α տиփыхр փ сιбэ иλуν отвուз ሞսуչоቬ αψቺ фαγοርεሖቮщ νፉηаւибрቂλ ωчукሃкω օщሊጡ оչሴхαሙаζ рахраմюлиг σεլ ምбоб ξխβ дኮф ፐኻωтр ጄоնу ዣኤпաኸիπሙցо պе ዘυዥобιми чиврօψ. Егե ፁኬθзևլሢፄևվ шዝጮεኜ снуቱኬ тωκаነዧпе к የуպεሿըኆուդ геψеск ոцо ዚυн кէዉо ኣθхոхωкумо нтጪжолոጽоч тва փጥզаዞυпሏвሊ. Еጊаф лиኛ φርз уфυσοኬ из анежևняጮιб ρаվатэбра. Cách Vay Tiền Trên Momo. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah pendidikan kerap diartikan secara longgar dan dapat mencakup berbagai persoalan yang luas. Namun demikian, pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi. Pertama dari sudut pandang masyarakat, dan kedua dari segi pandang individu. Dari segi pendangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi individu pendidikan berarti pegembangan potensi-petensi yang terdalam. Pandangan lainnya adalah pendidikan yang ditinjau dari segi masyarakat dan dari segi individu sekaligus. Dengan kata lain, pendidikan dipandang sebagai sekumpulan pewaris kebudayaan dan pengembang potensi-potensi. Pada pengembangannya pendidikan dipahami orang tidak hanya dari tiga sudut pandang di atas, bahkan melahirkan teori-teori baru yang tentu saja sangat positif bagi kegiatan pengkajian. Namun, tidak hanya sampai di situ, perkembangan ini pula telah melahirkan berbagai keracunan dari pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung kontiniu/berkesinambungan, berdasarkan hal ini, maka tugas dan fungsi yang diemban oleh pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh berkembang secara dinamis, mulai dari kandungan sampai hayatnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa hakekat dari pendidikan Islam? 2. Apa fungsi pendidikan Islam? 3. Apa tujuan pendidikan Islam? BAB II PEMBAHASAN A. Hakekat Pendidikan Islam Kalau istilah pendidikan diartikan sebagai “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”, maka pendidikan itu pada hakekatnya adalah proses pembimbingan, pembelajaran atau pelatihan terhadap anak, generasi muda, manusia agar nantinya bisa berkehidupan dan melaksanakan peranan serta tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya. Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “Tarbiyah” dengan kata kerjanya “Robba” yang berarti mengasuh, mendidik, memelihara.[1]Menurut pendapat ahli, Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[2] Pendidikan mempunyai arti yang sangat luas, yang mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, serta ketrampilan kepada generasi selanjutnya, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka, agar dapat memenuhi fungsi hidup mereka, baik jasmani maupun rohani.[3] Banyak ahli membahas pengertian pendidikan, tetapi dalam pembahasannya mengalami kesulitan, karena antara satu pengertian dengan pengertian yang lain sering terjadi perbedaan. Menurut Marimba, ia merumuskan pendidikan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[4] Pengertian tersebut sangat sederhana meskipun secara substansi telah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikan, dari pengertian itu pula pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didik oleh pendidik. Dari pengertian-pengertian pendidikan yang diungkapkan oleh para ahli di atas, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama pengertian secara sempit yang mengkhususkan pendidikan hanya untuk anak dan hanya dilakukan oleh lembaga atau instansi khusus dalam kerangka mengantarkan kepada kedewasaan, dan yang kedua pengertian secara luas, yang, mana pendidikan berlaku untuk semua orang dan dapat dilakukan oleh semua orang bahkan lingkungan. Tetapi dari perbedaan tersebut ada kesamaan tujuan yaitu untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi. Untuk memahami apa itu pendidikan Islam maka perlu kita ketahui juga mengenai Islam. Kata Islam menurut pandangan umum yang berlaku, biasanya mempunyai konotasi dengan dan diartikan sebagai agama Allah atau agama yang berasal dari Allah. Agama artinya adalah jalan, agama Allah berarti agama atau ajaran yang bersumber dari dimaksud adalah agama atau jalan hidup yang ditetapkan oleh Allah bagi manusia, untuk menuju dan kembali kepadaNya. Jadi agama Islam adalah jalan hidup yang telah ditetapkan Allah yang harus dilalui manusia, untuk kembali kepada Allah. Sedangkan secara etimologis, kata Islam tersebut memiliki banyak pengertian antara lain 1 berasal dari kata kerja aslama mengandung pengertian “menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat patuh dan tunduk, 2 berasal dari kata salima yang pengertian dasarnya “selamat, sejahtera, sentosa, bersih, dan bebas dari cacat dan cela, 3 juga berasal dari kata dasar salam yang berarti “damai, aman dan tentram.”[5] Walaupun kata Islam mengandung banyak arti, tetapi pada hakekatnya pengetian-pengertian dasar itu mengarah pada terwujudnya satu system kehidupan yang ideal bagi umat muslim.[6] Dalam konteks Islam, istilah pendidikan mengacu kepada makna dan asal kata yang membentuk kata pendidikan itu sendiri dalam hubungannya dengan ajaran Islam. Untuk memahami hakekat pendidikan Islam kita dapat mengkajinya dari istilah-istilah yang umum digunakan oleh para tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu, al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib. Setiap istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya. Walaupun dalam hal tertentu istilah-istilah tersebut juga mempunyai kesamaan makna. Hal tersebut sesuai dengan yang dihasilkan dalam konferensi Dunia tentang Pendidikan IslamWorld Conference in Islamic Education yang diadakan di Mekkah tahun 1977 memberikan rekomendasi tentang pengertian pendidikan menurut ajaran Islam sebagai berikut “the meaning of education in its totality in the context of Islam is inherent in the connotations of the terms tarbiyah, taklim, and ta’dib taken together. What each of these terms conveys concerning man and his society and environment in relation on God is related to the other, and together they represent the scope of education in Islam, both formal and non formal.”[7] Formulasi hakekat pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan begitu saja dari ajaran Islam yang tertuang dalam Al-qur’an dan sunnah, karena kedua sumber ini merupakan pedoman otentik dalam penggalian khazanah keilmuan apa pun. Dengan berpijak pada kedua sumber ini, diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang hakekat pendidikan Islam. Dalam al-qur’an memang tidak ditemukan secara khusus istilah al-tarbiyah, tetapi ada istilah yang senada dengan al-tarbiyah, yaitu ar-rabb, rabbayani, ribbiyun, rabbani. Selain itu, dalam sebuah hadits digunakan istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda. Merujuk kamus bahasa arab, akan ditemukan tiga akar kata untuk istilah tarbiyah. Pertama, raba yarbu yang artinya bertambah dan berkembang, kedua, rabiya yarba yang artinya tumbuh dan berkembang, ketiga, rabba yarubbu yang berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan. Sebagaimana yang ditulis Abdu Rahman bahwa kata tarbiyah memiliki tiga akar kata, إذ رجعنا إلى معاجم اللغة العربية التربية أصولاً لغوية ثلاثة الأصل الأول ربا يربو بمعنى زاد ونما, وفي هذا المعنى نزل قوله تعالى !$tBur OçF÷s?uä `ÏiB $\/Íh uqç/÷ŽzÏj9 þ’Îû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$ Ÿxsù qç/ötƒ y‰YÏã !$ الروم39. الأصول الثاني ربيَ يربى على وزن خفي يخفى, ومعناها نشأ وترعرع. وعليه قول ابن الأعرابي فمن يكُ سائلا عنى فإني بمكة منزلي وبها ربيتُ الأصل الثالث ربَّ يرب مدّ يمدّ بمعنى أصلحه, وتولى أموره, وساسه وقام عليه ورعاه, من هذا المعنى قول حسان بن ثابت كما أورده ابن منظور في لسان العرب ولأنت أحسن إذ برزت لنا يوم الخروج بساحة القصر. من درة بيضاء صافية مما تربّب حائر البحر وقال يعنى الدرة التي يربيها في الصدف, وبين بأن معنى تربب حائر البحر أي مما ترببة أي رباه مجتمع الماء في البحر. قال ورببت الأمر أربّه ربّاً ورباباً أصلحته ومتّنته. وقد اشتق بعض الباحثين من هذه الأصول اللغوية تعريفاً للتربية,قال الإمام البيضاويالمتوفى 685 هفي تفسيره أنوار التنزيل وأسرار التأويل الرب في الأصل بمعنى التربية وهي تبليغ الشيء إلى كماله شيئاً فشيئاً, ثمّ وصف به تعالى للمبالغة. وفى كتاب مفردات الراغب الأصفهانى المتوفى 502 ه الرب في الأصل التربية وهو إنشاء الشيء حالاً فحالاً إلى حد التمام. وقد استنبط الأستاذ عبد الرحمن الباني من هذه الأصول اللغوية أن التربية تتكون من عناصر أولها المحافظة على فطرة الناشئ ورعايتها. ثانيها تنمية مواهبه واستعداداته كلها, وهي كثيرة متنوعة. ثالثها توجيه هذه الفطرة وهذه المواهب كلها نحو صلاحها و كمالها اللائق بها. رابعها التدريج في هذه العملية, وهو ما يشير إليه البيضاوي بقوله.......شيئاً فشيئا والراغب بقولهحالاً فحالاً...... ثم يستخلص من هذا نتائج أساسية في فهم التربية. أولاها أن التربية عملية هادفة, لها أغراضها وأهدافها وغايتها. النتيجة الثانية أن المربي الحق على الإطلاق هو الله الخالق خالق الفطرة وواهب المواهب, وهو الذي سنّ سنناً لنموها وتفاعليها, كما أنه شرع شرعاً لتحقيق كمالها وصلاحها وسعادتها. النتيجة الثالثة أن التربية تقتضي خططاً متدرجة تسير فيها الأعمال التربوية و التعليمية وفق ترتيب منظم صاعد, ينتقل مع الناشئ من طور إلى طور ومن مرحلة إلى مرحلة. الرابعة أن عمل المربي وتابعّ لخلق الله وإيجاده, كما أنه تابع لشرع الله ودينه. وهذا التحليل لمعنى التربية ونتائجها يؤدّي بنا إلى معنى الشرع و الدين. لأن التربية تستمد جذورها منه, فطبيعة النفس الإنسانية طبيعة متدينة و الإنسان في الحقيقة حيوان متديّن كما سنوضح ذلك عند بحث خصائص التربية الإسلامية.[8] Apabila al-tarbiyah diidentikkan dengan ar-rabb, para ahli memberikan pengertian yang beragam. Ibnu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi memberikan arti ar-rabb dengan Pemilik, Tuan, Yang Maha Memperbaiki, yang Maha Pengatur, Yang Maha Menambahkan dan Yang Maha Menunaikan. Pengertian ini merupakan interpretasi dari kata ar-rabb dalam surah Al-fatihah dan yang merupakan nama dari nama-nama Allah dalam Asmaul Husna. Selanjutnya Fahrurrazi berpendapat bahwa ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-tarbiyah yang mempunyai makna al-tanmiyah pertumbuhan dan perkembangan. Menurutnya, kata rabbayani tidak hanya mencakup pengajaran yang bersifat ucapan, tetapi juga meliputi pengajaran sikap dan tingkah laku. Sementara Sayyid Quttub menafsirkan kata rabbayani sebagai pemeliharaan anak serta menumbuhkan kematangan sikap mentalnya. Apabila istilah al-tarbiyah diidentikkan dengan bentuk madi-nya rabbayani sebagaimana yang tertera dalam ZŽÉó¹’ÎT$u‹/u$ ayat 24 dan bentuk mudari’-nya nurabbi dalam ayat 18óOs9r&y7În/tçR$uZŠÏùY‰‹Ï9ur, al-tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, memproduksi, dan menjinakkan. Hanya saja dalam konteks kalimat dalam surah al-Isra’ lebih luas, mencakup aspek jasmani-ruhani, sedang dalam QS al-Syu’ara hanya mencakup aspek jasmani. Selanjutnya, istilah rabbaniyyin disebutkan dalam al-qur’an dalam QS. Ali Imran 79, "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”[9] Dengan mencermati ayat di atas, bisa dipahami bahwa arti al-tarbiyah sebagai padanan dari rabbani adalah proses transformasi ilmu pengetahuan. Proses rabbani bermula dari proses pengenalan, hapalan, dan ingatan yang belum menjangkau proses pemahaman dan penalaran.[10] Ahli pendidikan Islam, Al-Baidhawi, menyatakan bahwa tarbiyah bermakna”menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan” secara bertahap. Sementara Naquib al-Attas menjelaskan, bahwa tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara, menjaga, dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang, dan tumbuhan. Kosakata Rabb dijadikan salah satu rujukan dalam menyusun konsep pendidikan Islam oleh para ahli didik. Selain konsep tarbiyah, sering pula digunakan konsep ta’lim untuk pendidikan Islam. Secara terminology, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini, ta’lim cenderung dipahami sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas anak didik. Kecenderungan semacam ini, pada batas-batas tertentu telah menimbulkan keberatan pakar pendidikan untuk memasukkan ta’lim ke dalam pengertian pendidikan. Menurut mereka, ta’lim hanya merupakan salah satu sisi pendidikan.[11] Kemudian landasan pemikiran berikutnya dalam pendidikan Islam dapat dirujuk dari kata ta’dib. Menurut pemahaman Naquib al-Attas, ta’dib mengundang pengertian mendidik dan juga sudah merangkum pengertian tarbiyah dan ta’lim, yaitu pendidikan bagi manusia. Di samping itu, pengertian tersebut mempunyai hubungan erat dengan kondisi pendidikan ilmu dalam Islam. Sesungguhnya, bila dicermati pemaknaan dari masing-masing istilah, baik al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib, semuanya merujuk kepada yang ditenggarai sebagai kata bentukan dari kata rabb atau rabba mengacu kepada Allah sebagai Rabb al-alamin. Sementara ta’lim yang berasal dari kata allama, juga merujuk kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Alim. Selanjutnya, kata ta’dib seperti termuat pada sabda Rasulullah SAW “Adabbani Rabbi faahsana ta’dibi”, menjelaskan bahwa sumber utama pendidikan adalah Allah. Rasul sendiri menegaskan bahwa beliau dididik oleh Allah sehingga karenanya Rasulullah SAW, merupakan pendidik utama yang harus dijadikan teladan.[12] Berdasarkan atas pengertian al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib di atas, para ahli pendidikan Islam juga mencoba memformulasikan hakekat pendidikan Islam, dan seperti pemaknaan istilah pendidikan, formulasi hakekat pendidikan Islam ini juga berbeda satu sama lain. Inilah beberapa di antara formulasi tersebut[13] - Muhammad Fadlil al-Jamaly memberikan arti pendidikan Islam dengan upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. - Omar Mohammad al-Toumy al-Syaebany mendifinisikan pendidikan islam sebagai usaha mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu atau masyarakat serta berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandasakan nilai Islam. - Muhammad Munir Mursyi mengatakan bahwa pendidikan islam adalah pendidikan fitrah manusia. Disebabkan Islam adalah fitrah maka segala perintah, larangan, dan kepatuhannya dapat mengantarkan mengetahui fitrah ini. Sedangkan dalam kitab usulu at-tarbiyah al-islamiyah wa asalibiha disebutkan bahwa pendidikan Islam adalah التربية الإسلامية هى التنظيم النفسي و الاجتماعي الذى يؤدي إلى اعتناق الإسلام و تطبيقه كلياً في حياة الفرد و الجماعة فالتربية الاسلامية ضرورة حتمية لتحقيق الاسلام كما أراده الله أن يتحقق, وهي بهذا المعنى تهيئة النفس الانسانية لتحمّل هذه الأمانة, وهذا يعني بالضرورة أن تكون مصادر الإسلام هي نفسها مصادر التربية الاسلامية, وأهمها القرآن والسنّة .[14] Maka, dapat ditarik kesimpulan pendidikan Islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia, baik individu, maupun social untuk mengarahkan potensi, baik potensi dasar, maupun ajar yang sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spiritual berlandasan nilai Islam untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. B. Fungsi Pendidikan Islam Pendidikan agama Islam mempunyai fungsi yang sangat penting untuk pembinaan dan penyempurnaan kepribadian dan mental anak, karena pendidikan agama Islam mempunyai dua aspek terpenting, yaitu aspek pertama yang ditujukan kepada jiwa atau pembentukan kepribadian anak, dan kedua, yang ditujukan kepada pikiran yakni pengajaran agama Islam itu sendiri. Aspek pertama dari pendidikan Islam adalah yang ditujukan pada jiwa atau pembentukan kepribadian. Artinya bahwa melalui pendidikan agama Islam ini anak didik diberikan keyakinan tentang adanya Allah swt. Aspek kedua dari pendidikan Agama Islam adalah yang ditujukan kepada aspek pikiran intelektualitas, yaitu pengajaran Agama Islam itu sendiri. Artinya, bahwa kepercayaan kepada Allah swt, beserta seluruh ciptaan-Nya tidak akan sempurna manakala isi, makna yang dikandung oleh setiap firman-Nya ajaran-ajaran-Nya tidak dimengerti dan dipahami secara benar. Di sini anak didik tidak hanya sekedar diinformasikan tentang perintah dan larangan, akan tetapi justru pada pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana beserta argumentasinya yang dapat diyakini dan diterima oleh akal. Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan tertinggi pendidikan islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan tetapi hendaklah mengacu kepada konseptualisasi manusia paripuma insan kamil yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan islam. Fungsi pendidikan Agama Islam di sini dapat menjadi inspirasi dan pemberi kekuatan mental yang akan menjadi bentuk moral yang mengawasi segala tingkah laku dan petunjuk jalan hidupnya serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Agama Islam adalah 1. Memperkenalkan dan mendidik anak didik agar meyakini ke-Esaan Allah swt, pencipta semesta alam beserta seluruh isinya; biasanya dimulai dengan menuntunnya mengucapkan la ilaha illallah. 2. Memperkenalkan kepada anak didik apa dan mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang hukum halal dan haram. 3. Menyuruh anak agar sejak dini dapat melaksanakan ibadah, baik ibadah yang menyangkut hablumminallah maupun ibadah yang menyangkut hablumminannas. 4. Mendidik anak didik agar mencintai Rasulullah saw, mencintai ahlu baitnya dan cinta membaca al-Qur’an. 5. Mendidik anak didik agar taat dan hormat kepada orang tua dan serta tidak merusak lingkungannya. Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk Pertama, Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional; Kedua, Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan. Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan islam secara mikro adalah proses penanaman nilai nilai ilahiah pada diri anak didik, sehingga mereka mampu mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin sesuai dengan prinsip-prinsip religius. Secara makro pendidikan islam berfungsi sebagai sarana pewarisan budaya dan identitas suatu komunitas yang didalamnya manusia melakukan interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Secara umum fungsi pendidikan islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.[15] Bila dilihat dati operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dua bentuk 1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional. 2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan. Fungsi pendidikan Islam, dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 151 !$yJx. $uZù=y™ör& öNà6‹Ïù Zwqß™u öNà6ZÏiB qè=÷Gtƒ öNä3ø‹n=tæ $oYÏG»tƒuä ãNà6ßJÏk=yèãƒur =»tGÅ3ø9$ spyJò6Ïtø$ur Nä3ßJÏk=yèãƒur $¨B öNs9 qçRqä3s? tbqßJn=÷ès? ÇÊÎÊÈ Artinya “Sebagaimana kami telah mengutus kepada kamu sekalian seorang rasul diantara kau yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu, menyucikan mu, mengajarkan al-Kitab, dan al-hikmah, dan mengajarkan kepadamu yang belum kamu ketahui"QS. Al-Baqarah 151. Dari ayat di atas ada lima 5 fungsi pendidikan yang dibawa Nabi Muhammad, yang dijelaskan dalam tafsir al-Manar karangan Muhammad Abduh[16] a. Membacakan ayat-ayat kami, ayat-ayat Allah ialah membacakan ayat-ayat dengan tidak tertulis dalam al-Quran al-Kauniyah, ayat-ayat tersebut tidak lain adalah alam semesta. Dan isinya termasuk diri manusia sendiri sebagai mikro kosmos. Dengan kemampuan membaca ayat-ayat Allah wawasan seseorang semakin luas dan mendalam, sehingga sampai pada kesadaran diri terhadap wujud zat Yang Maha Pencipta yaitu Allah. b. Menyucikan diri merupakan efek langsung dari pembacaan ayat-ayat Allah setelah mengkaji gejala-gejalanya serta menangkap hukum-hukumnya. Yang dimaksud dengan penyucian diri menjauhkan diri dari syirik menyekutukan Allah dan memelihara akhlaq al-karimah. Dengan sikap dan perilaku demikian fitrah kemanusiaan manusia akan terpelihara. c. Yang dimaksud mengajarkan al-kitab ialah al-Quran al-karim yang secara eksplisit berisi tuntunan hidup. Bagaimana manusia berhubungan dengan tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya. d. Hikmah, menurut Abduh adalah hadits, akan tetapi kata al-hikmah diartikan lebih luas yaitu kebijaksanaan, maka yang dimaksud ialah kebijaksanaan hidup berdasarkan nilai-nilai yang datang dari Allah dan rasul-Nya. Walaupun manusia sudah memiliki kesadaran akan perlunya nilai-nilai hidup, namun tanpa pedoman yang mutlak dari Allah, nilai-nilai tersebut akan nisbi. Oleh karena itu, menurut Islam nilai-nilai kemanusiaan harus disadarkan pada nilai-nilai Ilahi al-Quran dan sunnah Rasulullah. e. Mengajarkan ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap, itulah sebabnya Nabi Muhammad mengajarkan pada umatnya ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh umat sebelumnya. Karena tugas utamanya adalah membangun akhlak al-Karimah.[17] Dengan mengembalikan kajian antropologi dan sosiologi ke dalam perspektif al-Quran dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Islam adalah Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenal jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran ilahi, sehingga tumbuh kemampuan membaca analisis fenomena alam dan kehidupan serta memahami hukum-hukum yang terkandung didalamnya. Dengan himbauan ini akan menumbuhkan kreativitas sebagai implementasi identifikasi diri pada Tuhan "pencipta". Membebaskan manusia dari segala analisis yang dapat merendahkan martabat manusia fitrah manusia, baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Mengembalikan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupun sosial.[18] C. Tujuan Pendidikan Islam Setiap langkah manusia tentunya disertai dengan tujuan, bagitu pula halnya dengan dunia pendidikan, karena tujuan pendidikan sangat penting dalam menentukan arah yang hendak dicapai atau ditempuh dalam masyarakat tertentu. Sebab tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan, proses pendidikan menjadi acak-acakan, tanpa arah atau salah langkah. Berkaitan dengan hal tersebut maka pendidikan Islam harus menyadari betul apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Pendidikan dalam arti islam adalah sesuatu yang khusus hanya untuk manusia”, demikian menurut Syed Muhammad al-Naquib al-Attas. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam secara filosofis seyogianya memiliki konsepsi yang jelas dan tegas mengenai manusia. Kalau pendidikan dalam islam hanya untuk manusia, manusia yang bagaimana yang dikehendaki pendidikan islam? Marimba menyebutkan bahwa manusia yang dikehendaki oleh pendidikan islam adalah manusia yang berkepribadian muslim. Dilihat dari segi kebahasaan kata tujuan berakar dari kata dasar tuju yang berarti arah atau jurusan. Maka, tujuan berarti maksud atau sasaran atau dapat juga berarti sesuatu yang hendak dicapai. Sementara pengertian tujuan secara istilah adalah batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha.[19] Pengertian tujuan pendidikan secara lebih luas dikemukakan oleh Al-Syaibany, menurut beliau yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup, atau pada proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu kreativitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[20] Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan tujuan pendidikan ialah hasil akhir yang diinginkan atau yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Abuddin Nata 1997 berpendapat, sebagai sesuatu kegiatan yang terencana, pendidikan islam memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya perumusan dan penetapan tujuan pendidikan islam harus memenuhi kriteria berikut a. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai kehendak Tuhan. b. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahan di muka bumi dilakukan dalam rangka pengabdian/beribadah kepada Allah. c. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia sehingga tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya. d. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmani guna pemilikan pengetahuan, akhlak dan keretampilan yang dapat digunakan mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya. e. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[21] Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting. Ada empat fungsi tujuan pendidikan menurut rumusan Ahmad D. Marimba, yaitu 1. Tujuan berfungsi mengakhiri usaha, 2. Tujuan berfungsi mengarahkan usaha, 3. Tujuan berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama, 4. Tujuan memberi nilai pada sifat pada usaha itu.[22] Zuhairini, dkk 1995 berpendapat bahwa tujuan adalah dunia cinta yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan. Hasan Langulung 1989 memberi pentahapan tujuan pendidikan islam menjadi tiga tingkat 1. Tujuan tertinggi, tujuan ini bersifat mutlak, artinya tidak akan mengalami perubahan baik dalam dimensi ruang waktu yang berbeda-beda. 2. Tujuan umum, lebih menekankan pada pendekatan empirik. 3. Tujuan khusus, tujuan ini adalah perubahan yang diharapkan dari tujuan-tujuan umum secara lebih spesifik lagi. Dalam konteks tujuan pendidikan Islam, menurut Hasan Langgulung, bahwa tujuan pendidikan islam harus mampu mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, antara lain 1. Fungsi spiritual, yaitu berkaitan dengan akidah dan iman. 2. Fungsi psikologis, yaitu berkaitan dengan tingkah laku individu termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia ke derajat yang lebih sempurna. 3. Fungsi social, yaitu berkaitan dengan aturan-aturan yang menghubungkan manusia dengan manusia lain atau masyarakat, yang mana masing-masing mempunyai hak untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.[23] Al-Syaibani memberikan rumusan tentang prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar dalam konseptualisasi tujuan Islam. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah menyeluruh, keseimbangan, kejelasan, tidak ada pertentangan, relistis, dan dapat dilaksanakan, perubahan pada arah yang dapat dikehendaki, menjaga perbedaan-perbedaan perseorangan dan dinamis serta menerima perubahan. Dari prinsip-prinsip tersebut maka dapat dirumuskan tujuan pendidikan yang lebih fungsional sesuai dengan kondisi social dan non social yang melingkupi proses pendidikan.[24] Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani 1979 juga merumuskan tujuan pendidikan islam sejalan dengan misi islam itu sendiri, yaitu “mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlakul karimah”. Sementara Jalaluddin dan Usman Said menyimpulkan tujuan pendidikan islam telah terangkum dalam kandungan surat al-Baqarah 2 ayat 201 رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ ٢٠١ "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat ". Menurut Mohammad Athiyah al-Abrosyi 1980 tujuan pendidikan islam adalah “Membantu pembentukan akhlak yang mulia, mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat, menumbuhkan ruh ilmiah scientific spirit pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui curiosity dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekadar sebagai ulmu, menyiapkan pelajaran agar dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu agar dapat mencari rezeki, hidup mulia dengan tetap memelihara kerihanian dan keagamaan, serta mempersiapkan kemampuan mencari dan mendayagunaan rezeki.[25] Untuk mengetahui tujuan pendidikan harus berdasar atas tinjauan filosofis. Menurut Imam Barnadib tujuan pendidikan secara umum dijelaskan seperti berikut[26] 1. Jika pendidikan bersifat progresif, tujuannya harus diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman. Dalam hal ini pendidikan bukan sekedar menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, melainkan pula melatih kemampuan berfikir dengan memberikan stimulun, sehingga mampu berbuat sesuai dengan intelegensi dan tuntutan lingkungan. Aliran ini dikenal dengan aliran progresivisme. 2. Jika yang dikehendaki pendidikan adalah nilai yang tinggi, pendidikan pembawa nilai yang ada di luar jiwa anak didik, sehingga ia perlu dilatih agar mempunyai kemampuan yang tinggi. Aliran ini dikenal dengan esensialisme. 3. Jika tujuan pendidikan yang dikehendaki agar kembali kepada konsep jiwa sebagai tuntutan manusia, prinsip utamanya ia sebagai dasar pegangan intelektual manusia yang menjadi sarana untuk menemukan evidensi sendiri. aliran ini dikenal dengan perenialisme. 4. Menghendaki agar anak didik dibangkitkan kemampuannya secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan masyarakat karena adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan penyesuaian ini, anak didik tetap berada dalam suasana aman dan bebas yang dikenal dengan aliran rekonstruksionisme. Tujuan tersebut di atas berangkat dan terkait dengan definisi pendidikan sesuai dengan alirannya masing-masing. Demikian juga dengan tujuan pendidikan Islam. Jika berangkat dari definisinya, tujuannya adalah terbentuknya kepribadian yang utama berdasarkan pada nilai-nilai dan ukuran ajaran Islam dan dinilai bahwa setiap upaya yang menuju kepada proses pencarian ilmu dikategorikan sebagai upaya perjuangan di jalan Allah. Charles Hummel mengemukakan, bahwa dalam menentukan tujuan pendidikan ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan. Pertama autonomy, yaitu memberi kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan secara maksimum kepada individu meupun kelompok untuk hidup mandiri, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik. Kedua, equity, berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untu dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberikannya pendidikan sebagai bekal hidup. Ketiga survival, yaitu dengan pendidikan akan menjamin pewarisan budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.[27] Proses pendidikan terkait dengan kebutuhan dan tabiat menusia tidak terlepas dari tiga unsur, yaitu jasad, ruh, dan akal. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam secara umum harus dibangun berdasarkan tiga komponen tersebut, yang masing-masing harus dijaga keseimbangannya. Maka dari sini, tujuan pendidikan Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga; 1. Pendidikan jasmani Keberadaan manusia telah diprediksikan sebagai khalifah yang akan berinteraksi dengan lingkungannya, maka keunggulan fisik memberikan indikasi kualifikasi yang harus diperhitungkan, yaitu kegagahan dan keperkasaan seorang raja. Hal ini sebagaiman yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, Nabi mereka berkata "Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. QS. Al-Baqarah 247. Fisik memang buka tujuan utama. Akan tetapi ia sangat berpengaruh. Ia berpengaruh dan memegang peran penting, sampai-sampai kecintaan Allah terhadap orang mukmin lebih diprioritaskan untuk orang yang mempunyai keimanan yang kuat dan fisik yang kuat dibandingkan dengan orang yang mempunyai keimanan yang kuat, tetapi fisiknya lemah. Rasulullah bersabda, “orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah.”. Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk menumbuhkan, menguatkan, dan memelihara jasmani dengan baik. Dengan demikian, jasmani mampu melaksanakan berbagai kegiatan dan beban tanggung-jawab yang dihadapinya dalam kehidupan individu dan social. 2. Pendidikan akal Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berfikir benar. Pendidikan intelektual akan mampu memperbaiki pemikiran tentang ragam pengaruh dan realitas secara tepat dan benar. Hal ini akan menghasilkan keputusan atas segala sesuatu yang dipikirkan menjadi tepat dan benar. Beberapa cara untuk mencapai keberhasilan pendidikan intelektual, yaitu melatih perasaan peserta didik untuk meningkatkan kecermatannya, melatih peserta didik untuk mengamati sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat, melatih daya intuisi sebagai sarana penting bagi daya cipta, dan membiasakan anak didik berfikir sistematis dan menanamkan kecintaan berfikir sistematis. Dengan demikian tujuan pendidikan akal terikat perhatiannya dengan perkembangan intelegensi yang mengarahkan manusia sebagai individu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya yang mampu memberikan pencerahan diri. 3. Pendidikan akhlak Akhlak mempunyai kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam, untuk mencapai keridhaan Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, dijelaskan tentang sendi-sendi agama yang bertumpu pada tiga komponen, yaitu iman, Islam, ihsan. Ketiganya merupakan system yang dalam praktik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, tetapi merupakan totalitas untuk mewujudkan akhlaq al-karimah dalam setiap perilaku manusia dalam setiap aspek kehidupan. Pembentukan akhlak mulia merupakan tujuan utama yang harus disuritauladankan oleh guru pada anak didik. Tujuan utama dari pendidikan islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang bermoral, jiwa bersih, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui kewajiban dan melaksanakannya, menghormati hak-hak manusia, dapat membedakan buruk dan baik, memilih fadhilah karena cinta fadhilah, menghindari perbuatan tercela dan mengingat Tuhan di setiap melakukan pekerjaan. Pendidikan akhlak bertujuan untuk membina kualitas manusia prima dengan ciri-ciri, antara lain a. beriman dan bertakwa kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan, b. berakal sehat atau mempunyai kemampuan akademik, yaitu mampu mengembangkan kecerdasannya dengan mencintai ilmu terutama yang sesuai dengan bakatnya, c. mempunyai kematangan kepribadian, berbudi luhur, jujur, amanah, barani, qanaah, sabar, bertanggung jawab dan percaya diri, d. mempunyai ketrampilan belajar, bekerja dan beramal saleh, disiplin kreatif dan inovatif.[28] Sementara itu, Mahmud al-Sayyid Sultan dalam Mafahim Tarbawiyah fi al-Islam menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dalam islam haruslah memenuhi beberapa karakteristik, seperti kejelasan, keumuman, universal, integral, rasional, aktual, ideal, dan mencakup jangkauan untuk masa yang panjang. Dengan karakteristik ini, tujuan pendidikan islam harus mencakup aspek kognitif fikriyah ma’rafiyyah, afektif khuluqiyyah, psikomotor jihadiyyah, spiritual ruhiyyah, dan sosial kemasyarakatan ijtima’iyyah. Laporan hasil World Conference on Muslim Education yang pertama di Makkah 31 Maret-8 April 1977 menyebutkan “Education should aim at balanced growth of the total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feelings and bodily senses. Education should therefore cater for the growth of man in all its aspects; spiritual, intellectual, and collectively and motivate all these aspects towards goodness and the attainment of perpection. The ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community and humanity at large.” Dari kutipan di atas tampak bahwa pendidikan islam memiliki dua tujuan, yaitu tujuan antara dan tujuan akhir. Kedua tujuan ini disebut oleh Abdul Rahman Salih Abdullah dengan istilah objectives dan aims atau dalam terma Arabnya ahdaf dan ghayah.[29] Sedangkan menurut Muhammad bin Salim bin Ali Jabir bahwa tujuan pendidikan Islam itu ada empat tingkat والأهداف التربوية الإسلامية تدور حول أربعة مستويات الأول الأهداف التي تدور على مستوى العبودية لله - سبحانه وتعالى - أو إخلاص العبودية لله. الثاني الأهداف التي تدور على مستوى الفرد؛ لإنشاء شخصية إسلامية ذات مثل أعلى يتصل بالله تعالى. الثالث الأهداف التي تدور حول بناء المجتمع الإسلامي، أو بناء الأمة المؤمنة. الرابع الأهداف التي تدور حول تحقيق المنافع الدينية والدنيوية.[30] Sedangkan menurut Athbiya’ al-Abrasy tujuan pendidikan Islam ada lima, yaitu 1. Membantu pembentukan akhlak yang mulia 2. Mempersiapkan untuk kehidupan dunia dan akhirat 3. Membentuk pribadi utuh, sehat jasmani dan rohani. 4. Menumbuhkan ruh ilmiah, sehingga memungkinkan murid mengkaji ilmu semata untuk ilmu itu sendiri. 5. Menyiapkan murid agar mempunyai profesi tertentu sehingga dapat melaksanakan tugas dunia dengan baik atau singkatnya persiapan untuk mencari rizki[31] Pendapat lain mengatakan bahwa tujuan umum dari pendidikan Islam adalah الأهداف الروحي و الخلقي تهيئة الفرص المناسبة للطفل في هذه المرحلة لينمو روحيا وخلقيا متفهما مبادئ دينه الحنيف حتى تتكون لدية العقائد و الاتجاهات الدينية النمو العقلي تزويد الطفل بأنواع المعرفة الضرورية وبطريقة مبسطة حتى ينتهي منها وهو على معرفة بالقراءة و الكتابة و التعبير متمكنا من العمليات الأساسية فلي الحساب قادرا على استخدامها في حياته العادية النمو الجسمي أن يلتزم الطفل بالقواعد الصحية العامة و يتبعا عن اقتناع بأهميتها لسلامة جسمه وبذلك نصل إلى غرس العادات الصحية الأساسية. النمو النفسي أن ينموا الطفل على درجة طيبة من الصحة النفسية الخالية من المرض النفسي متمشيا مع القدرة على الإحساس و الجمال و التذوق الفني. النمو الاجتماعي مساعدة الطفل على النمو في مجتمع ارتضى النظام الديمقراطي وغرس عادات السلوك الاجتماعي عن طريق المواد الأساسية و النشاطات المختلفة . القومي تربية الطفل على الاعتزاز بوطنه وأمته العربية وذلك عن طريق تعريفة للمظاهر الطبيعة و الاجتماعية لوطنه الكويت و تاريخ الأمة العربية الإسلامية.[32] Dari berbagai tujuan pendidikan Islam di atas menggambarkan berapa luasnya ruang lingkup dan sasaran yang harus dicapai pendidikan islam. Namun demikian, patokan yang kita pegangi bahwa pada hakekatnya tujuan pendidikan Islam sama dengan tujuan kehidupan umat manusia khususnya umat Islam, yang pada intinya untuk memperoleh kesejahteraan hidup harus di dunia dan akhirat. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Dalam rangka melaksanakan tugas sebagai pewaris para nabi waratsatul Anbiya’, para pendidik hendaklah bertolak pada amar ma’ruf dan nahi munkar dalam artian menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat penyebaran misi iman, Islam dan ihsan, dan kekuatan rohani pokok yang dikembangkan oleh pendidikan adalah individualitas, sosialitas dan moralitas nilai-nilai agama dan moral. 2. Fungsi Pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. 3. Tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia paripurna, terbaik, insan kamil atau manusia yang bertaqwa yaitu sosok manusia yang memahami peran dan fungsinya dalam kehidupan, serta manyandarkan semuanya pada ajaran dan hukum Allah SWT dan Rasulullah SAW. B. Saran Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari tentunya makalah ini tak lepas dari kesalahan-kesalahan, baik itu kesalah tulisan atau kesalahan materi, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari segenap pembaca dan dosen pengampu senantiasa kami harapkan, demi kesempurnaan makalah ini. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta Pustaka Pelajar Abduh, M. Tafsir al-Manar, Juz III. Beirut Darul Ma'arif, As Said, Muhammad. 2011. Filsafat Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta Mitra Pustaka Daradjat, Zakiah. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. Haitami, Moh. Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media Hummel, Charles. 1977. Education Today for the World of Tomorrow, paris unisco Langgulung. 1998. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Husna Muchsin, Bashori, dkk. 2010. Pendidikan Islam Humanistik. Bandung Refika Aditama. Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Al-Ma’arif Salih Abdullah, Abdul Rahman. Education Theory A Qur’anic Outlook, Makkah al-Mukarramah Umm al-Qura University, Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta Ar-Ruzz Media. Syar’I, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Firdaus. Tim dosen Sunan Ampel-Malang. 1996. Dasar-dasar Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama Usman. 2010. Filsafat Pendidikan Kajian Filosofis Pendidikan Nahdlatul Wathan. Teras Yogyakarta Teras. عبد الرحمن أصول التربية الإسلامية. دمشق دار الفكر. سعيد إسماعيل أصول التربية الإسلامية. القاهرة دار السلام. عبد الوهاب عبد السلام طويلة. 2003 .التربية الإسلامية وفن التدريس. القاهرة دار السلام. ماجد زكي الجلاد. 2004 . تدريس التربية الإسلامية. عمان دار المسيرة. [1] Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. 2004 [2]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 28 [3] Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Husna, 1998 [4] Ahmad Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Al-Ma’arif, 1989 [5]Tim dosen Sunan Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama, 1996. Hlm 7 [7]Ibid, Tim dosen Sunan Ampel-Malang. Hlm 13 [8] عبد تارحمن النحلوى. أصول التربية الإسلامية . دمشق دار الفكر, 1996 [10]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 31 [11]Tim dosen Sunan Kependidikan Islam. Surabaya Karya Abditama, 1996. Hlm 15 [12]Ibid, Tim dosen Sunan Ampel-Malang. Hlm 16 [13]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 32 [14] Abdurahman alnahlawi. Usulu Tarbiyah Al-Islamiyah wa Asalibiha. Bairut Darul Fikr. 21 [15]. Dr. Usman, Filsafat Pendidikan Kajian Filosofis Pendidikan Nahdlatul Wathan. 2010. Teras Yogyakarta, hlm. 115. [16]. M. Abduh, Tafsir al-Manar, Juz III. Beirut Darul Ma'arif, hlm. 29 [18]. Ahmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 36-37 [19]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 113 [20]Ibid, Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. hlm 114 [21]. H. Ahmad Syar’i Filsafat Pendidikan Islam. 2005. Firdaus Jakarta, hlm. 24-25 [22]Ibid. Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. hlm 115 [23] Hasan Langgulung. Beberapa pemikiran tentang Pendidikan Al-Ma’arif. 1980 [24] Ahmad Syar’i. filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka Firdaus. 2005. Hlm 24 [25]. H. Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, 2005, Firdaus Jakarta, hlm. 28-29 [26]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 116 [27]. Charles Hummel, Education Today for the World of Tomorrow, 1977, paris unisco. Hlm. 39 [28]Moh. Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta Ar-Ruzz Media, hlm 117-120 [29]. Abdul Rahman Salih Abdullah, Education Theory A Qur’anic Outlook, Makkah al-Mukarramah Umm al-Qura University, hlm. 114 [31]Bashori Muchsin, dkk. Pendidikan Islam Humanistik. Bandung Refika Aditama. 2010. Hlm 11
Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free MAKALAH PENDIDIKAN KARAKTER PADA ANAK Tugas ke-2 Dosen Pengampu Dr. I Kadek Suartama, Oleh Putu Okta Satriani 2211031226 Kelas 1F PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2022 ii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberikan kesempatan pada saya untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pendidikan Karakter Pada Anak”. Makalah dengan judul “Pendidikan Karakter Pada Anak” ini disusun guna memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah di Universitas Pendidikan Ganesha. Selain itu, saya juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca terkait topik yang dibahas yakni bagaimana pentingnya Pendidikan karakter pada anak usia dini. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada Bapak Dr. I Kadek Suartama, selaku dosen pengampu mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah di Universitas Pendidikan Ganesha. Dengan tugas yang diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang saya tekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini. Saya menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya terima demi kesempurnaan makalah ini. Singaraja, 17 November 2022 Putu Okta Satriani 2211031226 iii ABSTRAK Pendidikan karakter pada anak merupakan upaya penanaman perilaku terpuji pada anak – anak. Baik itu berupa perilaku dalam beribadah, perilaku sebagai warga negara yang baik, perilaku berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan, dan perilaku terpuji lainnya yang bermanfaat untuk kesuksesan hidupnya kedepan. Pendidikan karakter dilaksanakan pada setiap lingkungan di mana anak berada. Khususnya di sekolah, pendidikan karakter yang di dapatkan anak di sekolah tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang baik untuk anak di masa sekarang dan yang akan datang nantinya. Selain lingkungan sekolah, lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama yang ditemukan anak. Dalam keluarga, peran orang tua yaitu memiliki tanggung jawab untuk menanamkan sikap – sikap yang baik pada anak. Orang tua tidak semestinya menyerahkan pendidikan karakter anak sepenuhnya kepada guru - guru di sekolah. Orang tua dan guru adalah model yang akan ditiru dan diteladani oleh anak, baik ucapan maupun perbuatannya. Penanaman karakter pada anak dapat dilakukan melalui nasihat, pembiasaan, keteladanan, dan penguatan. Oleh karena itu, semua pihak baik itu dari orang tua, guru dan juga lingkungan tempat anak tinggal memiliki perannya masing – masing dalam pembentukan karakter anak. kata kunci karakter pada anak, pembentukan karakter, pendidikan karakter. iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii ABSTRAK ...................................................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................................. iv BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 Latar Belakang ................................................................................................... 1 Rumusan Masalah .............................................................................................. 2 Tujuan ................................................................................................................ 2 Manfaat .............................................................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 3 Pengertian Pendidikan Karakter ........................................................................ 3 Konsep Dasar Pendidikan Karakter ................................................................... 3 Nilai – Nilai Pendidikan Karakter ..................................................................... 4 Prinsip Pendidikan Karakter .............................................................................. 5 Peran Pendidikan dalam Penanaman Karakter Pada Anak ................................ 6 Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter ........................................................... 7 BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 8 Kesimpulan ........................................................................................................ 8 Saran .................................................................................................................. 8 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 9 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan dalam Bahasa Imggris dikenal dengan sebutan education yang dimana memiliki kata dasar educate dengan Bahasa latin educo. Educo memiliki arti mengembangkan dari dalam seperti mendidik, melaksanakan hukum kegunaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI Pendidikan memiliki arti sebuah pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha untuk mendewasakan individu melalui upaya pengajaran, pelatihan, proses, tata cara, dan perbuatan mendidik. Jadi dengan itu, dapat diartikan bahwa Pendidikan adalah sebuah proses pengembangan diri seseorang melalui sebuah upaya pengajaran, bimbingan dan pelatihan sehingga menjadikan seseorang menjadi pribadi yang lebih dewasa. Dalam lingkup kehidupan sebuah karakter dari individu merupakan salah satu hal penting yang dimana karakter menjadi salah satu ciri khas dari individu tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI karakter diartikan sebagai sifat – sifat kejiwaan, akhlak ataupun budi pekerti. Karakter juga diartikan sebagai nilai – nilai, sikap dan juga prilaku seseorang yang dapat diterima oleh masyarakat luas seperti etis, demokratis, hormat, bertanggung jawab, dapat dipercaya, adil dan fair, serta peduli, yang bersumber dari nilai – nilai kemasyarakatan, ideologi negara, dan kewarganegaraan, nilai – nilai budaya bangsa, agama, dan etnik yang diterima oleh masyarakat Indonesia secara luas sehingga tidak menimbulkan konflik. Menurut Darmiyati Zuchdi, dkk. 2015 3 pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai – nilai perilaku karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai – nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan, sehingga menjadi manusia paripurna. Oleh karena itu karakter dijadikan sebagai nilai – nilai yang dapat diterima oleh masyarakat membutuhkan sebuah sistem penanaman agar melekat pada diri manusia sehingga dapat berperilaku yang terpuji. Sedangkan menurut Asmaun Sahlan 2013 141-142 Pendidikan karakter memiliki tujuan sebagai arah dalam pelaksanaan pendidikan di sebuah lembaga. Pendidikan karakter sangat penting di dalam kehidupan manusia khususnya anak – anak muda penerus bangsa Indonesia yang dimana sekarang ini sedang dilanda dengan banyaknya penurunan moral di berbagai Lembaga, termasuk dalam dunia pendidikan. Dengan kenyataan itulah sebuah pendidikan karakter sangat diperlukan disini. Pendidikan karakter dijadikan sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan pembentukan karakter peserta didik khususnya sejak sekolah dasar agar memiliki akhlak mulia. Pendidikan karakter harus dilaksanakan sedini mungkin. Pendidikan karakter bisa dimulai sejak individu di usia dini yang dimana periode usia dini merupakan masa dimana sebagai landasan kehidupan manusia selanjutnya. Dengan itulah betapa pentingnya pendidikan karakter untuk anak sejak kecil yang dimana dimaksudkan untuk menanamkan nilai -nilai atau ajaran – ajaran kebaikan agar dapat menjadi sebuah kebiasaan ketika dewasa atau dijenjang pendidikan berikutnya. 2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut 1. Apa itu pendidikan karakter ? 2. Apa saja konsep dasar pendidikan karakter ? 3. Bagaimana pengelompokan nilai – nilai karakter ? 4. Apa saja prinsip dari pendidikan karakter ? 5. Bagaimana peran pendidikan dalam penanaman karakter pada anak ? 6. Apa saja fungsi dan tujuan dari pendidikan karakter ? Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut 1. Mengetahui pengertian pendidikan karakter 2. Mengetahui konsep dasar pendidikan karakter 3. Mengetahui pengelompokan nilai – nilai karakter 4. Mengetahui prinsip pendidikan karakter 5. Mengetahui peran pendidikan dalam penanaman karakter pada anak 6. Mengetahui fungsi dan tujuan pendidikan karakter Manfaat 1. Bagi Pembaca Adapun manfaat penulisan makalah ini bagi pembaca adalah agar pembaca dapat mengetahui dan menambah wawasan mengenai pentingnya pendidikan karakter pada anak. 2. Bagi Penulis Adapun manfaat penulisan makalah ini bagi penulis adalah penulis dapat memahami dan menambah pengetahuan serta wawasan mengenai pentingnya pendidikan karakter pada anak. 3 BAB II PEMBAHASAN Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan karakter tersusun atas dua kata yaitu pendidikan dan juga karakter. Kedua kata ini mempunyai maknanya sendiri – sendiri. Pendidikan lebih merujuk pada kata kerja, sedangkan karakter lebih pada sifatnya. Artinya, melalui proses pendidikan tersebut, nantinya dapat dihasilkan sebuah karakter yang baik Sutrisno, 2015. Kata pendidikan sendiri merupakan terjemahan dari education, yang dimana kata dasarnya adalah educate atau bahasa latinya educo. Educo memiliki arti mengembangkan dari dalam; mendidik; melaksanakan hukum kegunaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan yang mendidik. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan merupakan sebuah proses pengembangan diri seseorang melalui upaya pengajaran, bimbingan dan juga pelatihan sehingga menjadikan individu menjadi lebih dewasa. Dalam kamus Poerwadaminta, kata karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat – sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang menjadi ciri khas dan membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI karakter diartikan sebagai watak, tabiat, pembawaan dan kebiasaan. Karakter memiliki kaitan erat dengan personality, atau kepribadian seseorang. Adapula yang mengartikan karakter sebagai identitas diri seseorang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah suatu ciri khas yang dimiliki oleh seseorang yang berkaitan dengan kepribadian, sikap, tabiat, perilaku, akhlak dan budi pekerti yang dapat membedakan satu orang dengan orang lain. Menurut Fakri Gafar 2013, pendidikan karakter merupakan suatu proses transformasi dari nilai – nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan ke dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang tersebut. Sedangkan Scerenko berpendapat bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh – sungguh dengan cara mencari kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar, serta praktik emulsi. Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, maka dapat diartikan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengajarkan tentang kepribadian, tabiat, sikap maupun akhlaq sehingga terbentuk suatu individu seperti yang diharapkan. Dapat diartikan yang dimana suatu lembaga pendidikan harus mengedepankan penanaman dan juga pengembangan nilai – nilai karakter pada peseta didiknya dalam proses pembelajaran yang kemudian dapat diterapkan ke dalam kehidupan sehari – hari perserta didik selama masa hidupnya. Konsep Dasar Pendidikan Karakter Konsep dasar pendidikan karakter tertuang dalam Permendikbud No 23 tentang Penumbuhan Budi Pekerti tahun 2015. Penumbuhan Budi Pekerti PBP bertujuan sebagai berikut 4 1. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan. 2. Menumbuh kembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di keluarga, sekolah dan masyarakat. 3. Menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan keluarga. 4. Menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karakter seseorang atau individu akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang – ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan, yang pada akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan saja tetapi sudah menjadi suatu karakter dari indivitu itu. Pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari keterampilan hidup seseorang. Proses pengembangan keterampilan dimulai dari sesuatu yang tidak disadari dan tidak kompeten yang kemudian menjadi sesuatu yang disadari dan kompeten. Penanaman karakter bisa dimulai dengan cara menanamkan nilai – nilai universal untuk mencapai kematangan karakter melalui penanaman cinta kasih dalam keluarga. Penanaman dan pengembangan pendidikan karakter di sekolah menjadi tanggung jawab bersama – sama. Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh menjadi dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Sedangkan lingkungan sekolah memiliki peran sangat besar dalam pembentukan karakter anak. Peran guru tidak hanya sekedar sebagai pendidik semata, tetapi juga sebagai pendidik karakter, moral dan budaya bagi siswanya. Nilai – Nilai Pendidikan Karakter Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter haruslah bersumber dari Agama, Pancasila, Budaya dan juga tujuan pendidikan nasional Indonesia. Berdasarkan ke empat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini. a. Religius. Pikiran, perkataan, dan juga tindakan seseorang di upayakan selalu berlandaskan pada nilai-nilai Ketuhanan dan ajaran agamanya masing - masing. b. Jujur. Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya baik itu dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri ataupun orang lain. c. Toleransi. Sikap dan tindakan yang saling menghargai perbedaan baik itu agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. d. Disiplin. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan yang ada dalam kehidupan. e. Kerja keras. Perilaku yang menunjukkan upaya yang sungguh - sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. f. Kreatif. Berpikir dan melakukan sesuatu pembaharuan untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. g. Mandiri. Sikap dan perilaku yang tidak bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan hal dan tugas-tugas yang dimiliki. h. Demokratis. Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai hak dan kewajiban dirinya dan orang lain itu sama atau setara. i. Ingin tahu. Sikap dan juga tindakan yang selalu berupaya untuk menggali, mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya. 5 j. Nilai kebangsaan. Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang dimana menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya. k. Nasionalis. Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, yang tinggi terhadap bangsanya. l. Menghargai karya dan prestasi orang lain. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mempunyai sikap menghormati keberhasilan atau pencapaian orang lain. m. Komunikatif. Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain tanpa rasa canggung yang berlebihan. n. Cinta Damai. Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan nyaman atas kehadiran dirinya. o. Gemar Membaca. Kebiasaan untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebaikan bagi dirinya. p. Peduli Lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan melaksanakan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. q. Peduli Sosial. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan bantuan. r. Tanggung-jawab. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan baik itu terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah segala sesuatu hal yang dilakukan guru yang mampu mempengaruhi karakter peserta didiknya. Guru membantu membentuk watak peserta didik berdasarkan prinsip – prinsip pendidikan karakter. Menurut Saiful Bahri 2015 berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan nilai atau karakter bangsa yaitu 1. Nilai dapat diajarkan atau memperkuat nilai – nilai luhur budaya bangsa melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, olah kalbu, dan olah raga yang dihubungkan dengan objek yang dipelajari yang terintegrasi dengan materi pelajaran di sekolah. 2. Proses perkembangan nilai – nilai atau karakter bangsa dilakukan melalui setiap mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. 3. Proses pengembangan nilai – nilai karakter bangsa yang dimiliki peserta didik merupakan proses yang berkelanjutan sejak peserta didik masuk dalam satuan pendidikan. 4. Diskusi tentang berbagai perumpamaan objek yang dipelajari untuk melakukan olah pikir, olah rasa, olah kalbu, dan olah raga untuk memenuhi tuntutan dan munculnya kesadaran diri sebagai ciptaan Tuhan, anggota masyarakat bangsa maupun warga negara, dan sebagai bagian dari lingkungan tempat hidupnya. 5. Program perkembangan dirinya melalui kegiatan – kegiatan rutin budaya sekolah, keteladanan, kegiatan spontan pada saat kejadian, pengkondisian dan pengintegrasian pendidikan nilai karakter dengan materi pelajaran, serta merujuk kepada pengembangan kompetensi dasar setiap mata pelajaran di sekolah. 6 Pendidikan karakter pada tingkatan sekolah mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol – simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah. Peran Pendidikan dalam Penanaman Karakter Pada Anak Dengan perkembangan zaman yang memasuki era modern ini memacu para pendidik untuk mencetak anak – anak bangsa yang sanggup dan bisa untuk menempatkan diri di tengah arus perubahan yang cepat. Lebih dari itu, para tenaga pendidik memiliki kewajibanan untuk mendorong peserta didiknya menjadi orang – orang yang hidupnya mampu menggali makna dan memiliki akar pada nilai – nilai yang luhur, gambar diri yang kokoh dan ambisi – ambisi yang bermanfaat bagi manusia lain selain dirinya sendiri. Para pendidik harus menghasilkan peserta didik yang mandiri. Yang artinya mampu memilih berdasarkan nilai-nilai, gambaran diri yang kokoh dan ambisi yang tepat. Penanaman karakter dalam perannya dalam bidang pendidikan dijabarkan sebagai berikut 1. Pembinaan watak jujur, cerdas, peduli, tangguh merupakan tugas utama dari pendidikan. 2. Mengubah kebiasaan buruk melalui tahap demi tahap yang pada akhirnya menjadi baik. Dapat mengubah kebiasaan senang tetapi jelek yang pada akhirnya menjadi benci tetapi menjadi baik. 3. Karakter merupakan sifat yang tertanam di dalam jiwa dan dengan sifat itu seseorang secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan dan perbuatan. 4. Karakter adalah sifat yang terwujud dalam kemampuan daya dorong dari dalam keluar untuk menampilkan perilaku terpuji dan mengandung kebaikan. Penanaman – penanaman nilai karakter tersebut dapat wujudkan dan dijadikan budaya di masing – masing sekolah. Proses yang efektif untuk membangun budaya sekolah adalah dengan melibatkan dan mengajak semua pihak yang ada di lingkungan sekolah untuk bersama – sama memberikan komitmennya. Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah seperti nilai peduli dan kreatif, jujur, bertanggungjawab, disiplin, sehat dan bersih, dan juga saling peduli antar sesama warga sekolah. Sekolah adalah laksana taman atau tempat untuk menanam benih-benih nilai kebaikan untuk pembentukan karakter pada anak tersebut. Untuk itu, kepala sekolah, para guru dan karyawan harus fokus pada usaha pengorganisasian yang mengarah pada harapan dalam pembentukan karakter anak didiknya. Setiap sekolah hendaknya menentukan kegiatan khusus yang dapat mengikat para guru untuk melakukan kegiatan tersebut secara berkelanjutan. Berikut contoh penerapan keteladan pendidikan karakter di sekolah yang bisa diterapkan 1. Guru secara sadar datang pada jam dan pulang jam Kehadiran guru yang demikian sebagai bentuk komitmen mereka terhadap budaya yang telah berlaku di sekolah yang bersangkutan. 2. Sekolah memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, usaha, dan memberikan komitmennya. Dengan itu, semua karyawan dan siswanya akan termotivasi untuk bekerja keras, inovatif, dan mendukung perubahan. 3. Sekolah memberikan apresiasi pada saat upacara bendera pada hari senin untuk guru, karyawan dan siswa yang berprestasi. Cara yang dilakukan ini dapat 7 memotivasi setiap guru, karyawan dan siswa untuk meraih prestasi – prestasi tertentu. 4. Sekolah menerapkan Kegiatan Gotong Royong setiap satu semester yang bertujuan untuk menanamkan sikap atau rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah tersebut. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter Secara umum fungsi pendidikan karakter sesuai dengan fungsi dari pendidikan nasional, yaitu pendidikan karakter dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkaitan dengan itu, menurut Zubaedi ada beberapa fungsi dari diadakanya pendidikan karakter antara lain 1. Pembentukan dan Pengembangan Potensi Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi potensi peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. Oleh karena itu, dalam konteks ini pendidikan harus mampu memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik sesuai dengan norma-norma yang ada. 2. Perbaikan dan Penguatan Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki karakter peserta didik yang bersifat negatif dan memperkuat peran dari keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi manusia atau warga negara menuju bangsa yang berkarakter, maju, mandiri, dan sejahtera. 3. Penyaring Pendidikan karakter bangsa berfungsi memilah nilai-nilai budaya bangsa sendiri dan menyaring nilai-nilai budaya dari bangsa lain yang positif untuk menjadi karakter manusia agar menjadi bangsa yang bermartabat. Sedangkan pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Tujuan pendidikan karakter yang diharapkan Kementerian Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut. 1. Mengembangkan potensi nurani peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. 2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. 3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab pada peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. 5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan. 8 BAB III PENUTUP Kesimpulan Pendidikan karakter merupakan suatu proses transformasi dari nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan ke dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang tersebut. Pendidikan karakter pada anak merupakan upaya penanaman perilaku terpuji pada anak – anak. Baik itu berupa perilaku dalam beribadah, perilaku sebagai warga negara yang baik, perilaku berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan, dan perilaku terpuji lainnya yang bermanfaat untuk kesuksesan hidupnya kedepan. Pendidikan karakter dilaksanakan pada setiap lingkungan di mana anak berada. Salah satunya adalah di sekolah. Pendidikan karakter yang di dapatkan anak di sekolah tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang baik untuk anak di masa sekarang dan di masa yang akan datang nantinya. Orang tua dan guru adalah model yang akan ditiru dan diteladani oleh anak, baik ucapan maupun perbuatannya. Penanaman karakter pada anak dapat dilakukan melalui nasihat, pembiasaan, keteladanan, dan penguatan. Oleh karena itu, semua pihak baik itu dari orang tua, guru dan juga lingkungan tempat anak tinggal memiliki perannya masing – masing dalam pembentukan karakter anak. Dalam pendidikan karakter pada anak ada 4 konsep dasar yang menjadi landasan pendidikan karakter untuk anak. Selain itu ada pula prinsip – prinsip yang harus diterapkan dalam proses penanaman karakter pada anak khusunya di sekolah. Begitupun juga dengan peranan pendidikan dalam proses penanaman karakter pada anak yang dimana salah satunya dengan membuat suatu aturan – aturan kecil di sekolah yang wajib ditaati untuk menumbuhkan karakter baik di dalam diri anak tersebut. Dari semua hal diatas adapun fungsi dan tujuan yang akan diperoleh dari pendidikan karakter yang dimana salah satunya adalah dapat membentuk dan juga mengembangkan dengan bakat individu yang dimiliki. Saran Dengan pentingnya pendidikan karakter untuk anak – anak usia dini dan sekolah dasar sangat diperlukan pendidikan karakter yang dimana seharusnya sudah ditanamkan sedini mungkin. Dalam pendidikan karakter sebaiknya bukan hanya guru yang berperan tetapi juga orang tua serta lingkungan sekitar ikut berperan penting dalam proses penanaman karakter pada seseorang agar menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. 9 DAFTAR PUSTAKA Bahri, S. 2015. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Mengatasi Krisis Moral di Sekolah. TA'ALLUM. Hadisi, L. 2015. Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-Ta'dib. Khaironi, M. 2017. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Golden Age Universitas Hamzanwadi, 82. Putri, D. P. 2018. Pendidikan Karakter Pada Anak Sekolah Dasar di Era Digital. AR-RIAYAH Jurnal Pendidikan Dasar, 37-39. Zuchdi, D. 2015. Implementasi Pendidikan Karakter di SMP N 8 dan SMP N 9 Purwokerto. Jurnal Pembangunan Pendidikan. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Ningsih Zamroni ZamroniDarmiyati ZuchdiPenelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan; 1 implementasi pendidikan karakter IPK di SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 9 Purwokerto; 2 peran kepala sekolah, guru, dan siswa dalam IPK; dan 3 aktualisasi nilai-nilai karakter dalam IPK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian ditarik kesimpulan berikut ini. 1 Implementasi pendidikan karakter yang lakukan melalui pola kegiatan terpadu antara kegiatan intrakurikuler dan ektrakurikuler. 2 Implementasi pendidikan karakter yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan siswa mempunyai peranan yang positif dalam pembentukan kultur sekolah yang berkarakter. Peran kepala sekolah, guru, dan siswa dalam IPK diwujudkan dalam a peran kepala sekolah sebagai motivator, pemberi contoh keteladanan, pelindung, penggerak kegiatan, perancang kegiatan, pendorong, dan pembimbing; b peran guru sebagai pendidik, pengasih, dan pengasuh; dan c peran siswa sebagai subjek didik dan pelaksana kegiatan di sekolah. 3 Aktualisasi nilai-nilai karakter dalam IPK cenderung mengacu pada prinsip ABITA Aku Bangga Indonesia Tanah Airku berbasis kebangsaan dan religius yang meliputi 18 nilai karakter, yaitu a nilai religius, b kejujuran, c demokratis, d tanggungjawab, e disiplin, f peduli lingkungan, g peduli sosial, h kerja keras, i mandiri, j cinta tanah air, k semangat kebangsaan, l rasa ingin tahu, m gemar membaca, n menghargai prestasi, o cinta damai, p bersahabat/komunikatif, q toleran, dan r kreatif. 4 Terdapat persamaan dan perbedaan dalam IPK di kedua SMP tersebut, persamaannya adalah mengacu pada nilai-nilai yang ada pada prinsip ABITA, perbedaannya kalau di SMP Negeri 8 melaksanakan 12 nilai karakter dan kegiatan pelajaran sekolah setiap pagi diawali dengan baca Alquran pada jam ke-0, sedangkan SMP Negeri 9 Purwokerto melaksanakan 18 nilai karakter sesuai prinsip ABITA sebagai pilot projek Kemdikbud yang kegiatan pelajaran dimulai setiap pagi diawali dengan “Salam ABITA”, menyanyikan lagu kebangsaan, dan kegiatan kebersihan lingkungan Palupi PutriCharacter education is an application process of etiquette value and religious into the students through knowledge, the application of the values to yourself, family and each friends into the teacher, environment and also into God Almighty. The social development of the child in the age of the elementary school have increase. From the first only socialize with the family in the house and then grow up to know another people around him. The child in this age also know the digital style either in the house, friends, school and the environment. In the digital era it’s not only positive impact but also negative impact. In this case the figure of the parents, teacher and society are working to guide and watch the child to become good, excellent and have the positive aim to their selfSaiful BahriCharacter education is the deliberate effort conscious to help people understand, care about, and implement the core ethical values. It is expected that character and personality are formed by the learners themselves who long for the success of character education. Learners are expected to understand the values imparted to him, entirely without any misunderstanding at all. Integration of character education is vital in overcoming the problem of moral crisis. Thus, in the implementation of character education in schools is three methods are employed involving learning, extracurricular activities, and school Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-Ta'dibL HadisiHadisi, L. 2015. Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini. Jurnal Al-Ta'dib.
Tujuan pendidikan merupakan suatu faktor yang amat sangat penting di dalam pendidikan, karena tujuan pendidikan ini adalah arah yang hendak dicapai atau yang hendak di tuju oleh pendidikan Hidayat & Abdillah, 2019, hlm. 25. Sebetulnya, tujuan pendidikan juga amatlah bergantung pada kebutuhan dari penyelenggaraan pendidiknya sendiri. Selain itu, lembaga pendidikan, institusi, bahkan negara sendiri memiliki tujuannya masing-masing. Setiap negara memiliki sistem pendidikan nasional yang dibangun berdasarkan perjalanan sejarah berdirinya negara dan cita-cita negara jangka panjang yang ingin dicapai. Begitu juga dengan negara kita, Indonesia memiliki tujuan pendidikan yang dirangkai dalam sistem pendidikan nasional dan dirumuskan pada tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut akan menjadi landasan negara dalam mengembangkan sistem pendidikan dan mengelola proses pendidikan nasional. Berdasarkan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pada pasal 3 tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” UU No. 20/2003, pasal 3, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 81. Akan tetapi, tidak berhenti di situ saja, tujuan pendidikan juga telah banyak dirumuskan oleh berbagai aliran-aliran pendidikan. Para ahli pendidikan juga memiliki pendapatnya masing-masing mengenai tujuan pendidikan ini. Oleh karena itu, tujuan pendidikan sejatinya merupakan pokok permasalahan yang cukup mendalam dan akan dibahas secara komprehensif melalui berbagai uraian berikut ini. Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang dicapai oleh peserta didik setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan Suardi, dalam Hidayat & Abdillah, 2019, hlm. 25. Seluruh kegiatan pendidikan, yakni bimbingan pengajaran atau latihan, diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan itu. Sementara itu menurut Syam, dkk 2021, hlm. 71 tujuan pendidikan adalah faktor yang sangat menentukan jalannya pendidikan sehingga perlu dirumuskan sebaik-baiknya sebelum semua kegiatan pendidikan dilaksanakan, dan rumusan tujuan pendidikan akan tepat apabila sesuai dengan fungsinya. Fungsi dari tujuan pendidikan sendiri meliputi Memberikan arah bagi proses pendidikan, Memberikan motivasi dalam aktivitas pendidikan, Tujuan pendidikan merupakan kriteria atau ukuran dalam evaluasi pendidikan Achmadi, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 71. Sedangkan menurut Maunah dalam Hidayat & Abdillah, 2019, hlm. 25 tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dari alam sekitarnya dimana individu hidup. Dalam konteks ini tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan yang menempati kedudukan dan fungsi sentral. Itu sebabnya setiap tenaga pendidik perlu memahami dengan baik tujuan pendidikan. Lantas, sebetulnya apa tujuan dari pendidikan itu sendiri? Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tujuan pendidikan ini dapat kita telusuri dari tujuan pendidikan suatu negara, ideologi yang menyokongnya, hingga pendapat para ahli pendidikan yang akan dipaparkan sebagai berikut. Tujuan Pendidikan Nasional Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan Hidayat & Abdillah, 2019, hlm. 26. Berdasarkan UU. Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pembahasan lengkap mengenai tujuan pendidikan nasional ini dapat disimak pada artikel berikut ini. Baca juga Tujuan Pendidikan Nasional Bedah Tuntas UU 20 SISDIKNAS Menurut UNESCO Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB melalui lembaga UNESCO United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni sebagai berikut. Learning to know belajar mengetahui. Learning to do belajar melakukan sesuatu. Learning to be belajar menjadi sesuatu. Learning to live together Hidayat & Abdillah, 2019, hlm. 26. Ditambahkan catatan pula bahwa keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ kecerdasan berpikir, EQ kecerdasan emosi, dan SQ kecerdasan sosial. Di dunia ini ada beberapa ideologi pendidikan yang memengaruhi pengembangan sistem pendidikan di dunia. Masing-masing ideologi pendidikan tersebut memiliki pandangan tersendiri tentang tujuan pendidikan. Bagaimanakah tujuan pendidikan menurut aliran ideologi pendidikan? Menurut O’neil dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 72 beberapa tujuan pendidikan menurut aliran ideologi pendidikan adalah sebagai berikut. Ideologi Fundamentalisme Pendidikan Menurut pandangan pengikut ideologi ini, tujuan pendidikan adalah membangkitkan kembali dan meneguhkan kembali cara-cara lama yang dianggap lebih baik dibandingkan cara-cara sekarang. Menurut pendapat ideologi ini, tujuan sekolah adalah untuk membangun kembali masyarakat dengan cara mendorongnya agar kembali ke tujuan-tujuan yang mula-mula. Ideologi Intelektualisme Pendidikan Menurut pandangan ideologi intelektualisme, pendidikan bertujuan untuk mengenali, melestarikan, dan meneruskan kebenaran. Dalam hal ini, sekolah diselenggarakan untuk mengajarkan kepada peserta didik bagaimana menalar. Ideologi Konservatisme Pendidikan Tujuan pendidikan menurut pendapat ideologi konservatif adalah untuk melestarikan dan meneruskan pola-pola perilaku sosial yang mapan. Seiring dengan itu, maka tujuan sekolah adalah untuk mendorong pemahaman peserta didik terhadap dan penghargaan bagi lembaga-lembaga, tradisi-tradisi, dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu sudah tua umumnya, termasuk rasa hormat yang mendalam terhadap hukum serta tatanan. Ideologi Liberalisme Pendidikan Tujuan pendidikan dalam pandangan ideologi liberalisme pendidikan adalah untuk mengangkat perilaku personal yang efektif. Sedangkan tujuan penyelenggaraan sekolah adalah untuk menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan oleh peserta didik agar supaya bisa belajar sendiri secara efektif. Ideologi Liberasionisme Pendidikan Pendukung ideologi liberasionisme pendidikan berpandangan bahwa pendidikan bertujuan untuk mendorong pembaharuan/perombakan sosial yang perlu dengan cara memaksimalkan kebebasan personal di sekolah dan dengan mengangkat kondisi-kondisi yang lebih berperikemanusiaan dan memanusiakan dalam masyarakat secara luas. Sekolah bertujuan untuk membantu peserta didik untuk mengenal dan menanggapi kebutuhan akan pembaharuan sosial. Ideologi Anarkisme Pendidikan Menurut ideologi ini, pendidikan bertujuan untuk membawa perombakan-perombakan yang segera dan berlingkup besar, yang bersifat humanistis, di dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan persekolahan wajib. Sekolah bertujuan untuk menghapuskan sistem pendidikan formal yang ada sekarang secara keseluruhan, dan menggantikannya dengan pola belajar yang ditentukan sendiri oleh perorangan secara sukarela, menyediakan akses yang bebas dan universal ke bahan-bahan pendidikan serta kesempatan-kesempatan pendidikan, tapi tidak menonjolkan wajib belajar ataupun pelajaran wajib. Ideologi Pendidikan Islam Menurut Omar Muhammad Attoumy Asy-syaebani, tujuan pendidikan Islam memiliki empat ciri pokok, yaitu a Sifat yang bercorak agama dan akhlak; b Sifat kemenyeluruhannya yang mencakup segala aspek pribadi peserta didik dan semua aspek perkembangan dalam masyarakat; c Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur-unsur dan cara pelaksanaannya; d Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan perseorangan di antara individu, masyarakat dan kebudayaan di mana-mana dan kesanggupannya untuk berubah dan berkembang bila diperlukan Achmadi, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 74. Beberapa ahli pendidikan memiliki pandangan yang berbeda tentang tujuan pendidikan. Berikut adalah beberapa pendapat para ahli pendidikan mengenai tujuan pendidikan yang dirangkum dari Syam, dkk 2021, hlm. 74. Ki Hadjar Dewantara Ki Hadjar Dewantara merumuskan tujuan pendidikan sebagai penguasaan diri, sebab di sinilah pendidikan memanusiakan manusia humanisasi. Beliau berpandangan bahwa ketika peserta didik mampu menguasai diri sendiri, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya sendiri sehingga akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menyatakan bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah untuk membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka Fedi, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 74. Tilaar Tilaar menyatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan nasional tentunya sifatnya abstrak sehingga perlu disesuaikan dengan perkembangan akal dan budi peserta didik. Bagi peserta didik pada tingkat-tingkat permulaan tentunya nilai-nilai Pancasila hanya dapat dihayati melalui contoh yang konkret di dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan perkembangan kemampuan akal dan budinya, nilai-nilai Pancasila beranjak menjadi nilai-nilai yang abstrak dan merupakan bagian dari perkembangan anak Indonesia Tilaar, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 75. Zainuddin Fananie Zainuddin Fananie berpandangan bahwa pendidikan bertujuan untuk membantu menunjukkan jalan kebaikan kepada peserta didik atau siapa saja agar dapat memilih jalan tersebut dengan sendirinya. Tugas pendidik hanyalah menunjukkan jalan yang sebaik-baiknya agar peserta didik menjadi baik di setiap perbuatan, perkataan, dan hati Fananie, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 75. Susan Isaacs Susan Isaacs berpandangan bahwa perkembangan intelektual anak berhubungan erat dengan perkembangan emosional. Kebebasan di ruang kelas akan menghilangkan hambatan proses belajar atau distorsi perkembangan watak. Ia membangun budaya kebebasan dan mendorong permainan sebagai metode mengungkapkan kehidupan naluriah instinctual life, upaya memahami dunia, dan mengembangkan keterampilan yang tersublimasi Hobson dkk, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 76. John A. Laska John A. Laska menyatakan pendidikan sebagai ”Upaya sengaja yang dilakukan pelajar atau orang lainnya untuk mengontrol atau memandu, mengarahkan, memengaruhi dan mengelola situasi belajar agar dapat meraih hasil belajar yang diinginkan Laska, , dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 75. Berdasarkan definis pendidikan ini, maka tujuan pendidikan adalah untuk memandu, mengarahkan, memengaruhi, dan mengelola situasi belajar agar peserta didik mampu meraih hasil belajar yang diinginkan secara maksimal. Alexander Sutherland Neil S. Neil, pendiri sekolah Summerhill di Inggris menyatakan bahwa, ”Kita merancang sebuah sekolah yang memungkinkan anak-anak menjadi dirinya sendiri. Untuk mengupayakan hal tersebut, kita harus mengesampingkan semua disiplin, arahan, saran, ajaran moral, dan perintah agama. Anak-anak jangan pernah dipaksa untuk belajar, dan memang prinsip utama Summerhill adalah bahwa anak mengikuti pelajaran secara sukarela berapapun usianya. Hanya belajar yang dilakukan secara sukarelalah yang bernilai dan anak akan mengenal dirinya sendiri apabila mereka telah siap untuk belajar” Hobson dkk, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 75. Harold Ordway Rugg Harold Ordway Rugg adalah pemimpin gerakan pendidikan progresif di Amerika Serikat. Dalam pendidikan progresif, komitmen terhadap kreativitas individu termanifestasi dalam pendidikan yang berpusat pada anak. Rugg lebih menekankan aktivitas yang ditujukan untuk mengembangkan kreativitas dan intuisi anak daripada mengerahkan seluruh kelas mengikuti kurikulum standar yang sudah disusun sebelumnya Hobson, dkk, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 76. Tujuan Pendidikan Tinggi Pendidikan di perguruan tinggi berbeda dengan pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Tujuan pendidikan tinggi selain berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa, juga berkaitan dengan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan tinggi selain berorientasi pada peserta didik mahasiswa juga menekankan peranan institusi pendidikan dalam melaksanakan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Terkait dengan tujuan pendidikan tinggi, berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pada pasal 5 dinyatakan bahwa Pendidikan Tinggi bertujuan untuk berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa UU No. 12, pasal 5, dalam Syam, dkk, 2021, hlm. 82. Referensi Hidayat, R.,& Abdillah. 2019. Ilmu pendidikan konsep, teori, dan aplikasinya. Medan Penerbit LPPPI. Syam, dkk. 2021. Pengantar ilmu pendidikan. Medan Yayasan Kita Menulis.
Makalah Urgensi, Tujuan dan Fungsi Pendidikan Bagi Anak Usia DiniBAB I PENDAHULUANRendahnya mutu pendidikan masih disandang bangsa Indonesia. Hal ini dapat diminimalkan dengan mengoptimalkan pendidikan pada anak sejak dini. Pada usia 0-6 tahun anak perlu mendapat perhatian khusus karena saat inilah kesiapan mental dan emosionalnya mulai terbentuk. Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini PAUD menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan, yaitu kesiapan mental dan emosional anak saat memasuki sekolah mulai belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak bayi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak bayi dibentuk pada usia nol sampai enam tahun. Oleh sebab itu asupan nutrisi yang cukup juga harus diperhatikan. Para ahli neurologi meyakini sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi pada usia empat tahun, 80% terjadi ketika usia delapan tahun, dan 100% ketika anak mencapai usia 8-18 tahun. Itulah sebabnya, mengapa masa anak-anak dinamakan masa keemasan. Sebab, setelah masa perkembangan ini lewat, berapapun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat yang memiliki anak, tentu tidak ingin melewatkan masa keemasan ini. Berdasarkan kajian neurologi dan psikologi, perkembangan kualitas anak usia dini disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan juga dipengaruhi faktor kesehatan, gizi, dan psikososial yang diperoleh dari lingkungannya. Maka, faktor lingkungan harus direkayasa semaksimal mungkin agar kekurangan yang ditimbulkan faktor bawaan tersebut bisa tahun-tahun pertama kehidupan, otak anak berkembang sangat pesat dan menghasilkan bertrilyun-trilyun sambungan yang memuat berbagai kemampuan dan potensi. Nutrisi bagi perkembangan anak merupakan faktor terpenting yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang terdapat enam aspek yang harus diperhatikan terkait dengan perkembangan anak antara lainPerkembangan fisik hal ini terkait dengan perkembangan motorik dan fisik anak seperti berjalan dan kemampuan mengontrol pergerakan sensorik berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan panca indra dalam mengumpulkan komunikasi dan bahasa terkait dengan kemampuan menangkap rangsangan visual dan suara serta meresponnya, terutama berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mengekspresikan pikiran dan kognitif berkaitan dengan bagaimana anak berpikir dan emosional berkaitan dengan kemampuan mengontrol perasaan dalam situasi dan kondisi sosial berkaitan dengan kemampuan memahami identitas pribadi, relasi dengan orang lain, dan status dalam lingkungan orang tua juga dituntut untuk memahami fase-fase pertumbuhan anak. Fase pertama, mulai pada usia 0-1 tahun. Anak diusia ini merupakan suatu mahkluk yang tertutup dan egosentris. Ia mempunyai dunia sendiri yang berpusat pada dirinya sendiri. Dalam fase ini, anak mengalami pertumbuhan pada semua bagian tubuhnya. Ia mulai berlatih mengenal dunia sekitarnya dengan berbagai macam gerakan. Anak mulai dapat memegang dan menjangkau benda-benda disekitarnya. Ini berarti bahwa sudah mulai ada hubungan antara dirinya dan dunia luar yang terjadi pada pertengahan tahun pertama ± 6 bulan. Pada akhir fase ini terdapat dua hal yang penting yaitu anak belajar berjalan dan mulai belajar kedua, terjadi pada usia 2-4 tahun ditandai dengan anak semakin tertarik kepada dunia luar terutama dengan berbagai macam permainan dan bahasa. Dunia sekitarnya dipandang dan diberi corak menurut keadaan dan sifat-sifat dirinya. Disinilah mulai timbul kesadaran akan "akunya". Anak berubah menjadi pemberontak dan semua harus tunduk kepada ketiga, terjadi pada usia 5-8 tahun. Pada fase pertama dan kedua, anak masih bersifat sangat subjektif namun pada fase ketiga ini anak mulai dapat melihat sekelilingnya dengan lebih objektif. Semangat bermain berkembang menjadi semangat bekerja. Timbul kesadaran kerja dan rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya. Rasa sosial juga mulai tumbuh. Ini berarti dalam hubungan sosialnya anak sudah dapat tunduk pada ketentuan-ketentuan disekitarnya. Mereka menginginkan ketentuan-ketentuan yang logis dan konkret. Pandangan dan keinginan akan realitas mulai Pentingnya Pendidikan Pada Anak Usia Dini di IndonesiaBAB II PEMBAHASAN1 Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini PAUDPendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kecerdasan daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa/ komunikasi, sosial. Selain itu, PAUD juga merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih Tujuan Diadakannya PAUD“Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini PAUD menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan yaitu kesiapan mental dan emosional anak memasuki sekolah dasar” Widarso, 2008. Itulah yang mendasari tujuan diadakannya PAUD, yakni untuk memperlancar serta mempermudah anak untuk memasuki awal pendidikan. Sehingga anak menjadi lebih mandiri, disiplin, dan lebih mudah mengembangkan Fungsi dari Pendidikan Anak Usia DiniFungsi PAUD adalah sebagai pondasi yang kuat agar dikemudian hari anak bisa berdiri kokoh dan menjadi sosok manusia yang berkualitas. Olek karena itu PAUD penting sekali untuk diadakan, sebab pada usia anak-anak merupakan “masa emas” karena pada saat itu perkembangan otak manusia sangat cepat. Sehingga harus ada upaya pendidikan yang memadai pada masa Pendidikan Anak Usia Dini PAUD di IndonesiaRendahnya mutu pendidikan masih disandang oleh bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena pendidikan anak usia dini di Indonesia jumlahnya masih relatif sedikit. Endah Kuntariyati 2007 mengatakan “Itulah sebabnya pemerintah kini mulai menggalakkan PAUD di beberapa daerah”. Namun peran pemerintah saja tidak cukup, keluargalah yang merupakan sarana utama dan pertama guna melaksanakan Pendidikan Anak Usia Dini karena mengingat batasan PAUD adalah usia anak sejak lahir hingga enam tahun. Widarso 2008 mengatakan “Adapun beberapa peran yang dapat dilakukan oleh orang tua, yaitu sebagai pengamat, manajer, teman bermain dan pemimpin”. Selain peran pemerintah dan keluarga, peran masyarakat juga sangat III PENUTUPKesimpulanDunia pendidikan di Indonesia masih terpuruk karena disebabkan oleh kurangnya pendidikan pada anak usia dini. Padahal pendidikan sejak dini sangat dibutuhkan bagi anak sebagai pondasi yang kuat agar dikemudian hari anak bisa berdiri kokoh dan menjadi sosok manusia yang berkualitas. Karena perkembangan otak anak masih cepat bila dibandingkan dengan perkembangan otak manusia Anak Usia Dini sangat perlu dijalankan di Indonesia demi kemajuan dunia pendidikan Anak Usia Dini dapat dijalankan mulai dari lembaga yang paling dekat dengan anak, yakni keluarga. Sebab keluargalah yang sangat berperan dalam pembentukan pribadi anak sejak kecil. Tentunya tidak hanya keluarga, masyarakat serta lembaga-lembaga pendidikan juga dapat berperan serta dalam mendidik anak sejak kecil. DAFTAR PUSTAKAEndah Kuntariyati. 2007. PAUD Menyongsong Kualitas Anak Masa Depan. Pendidikan Network,Online, P. Pardede. 2007. Pentingnya Mendidik Anak Sejak Usia Dini. Multiply,Online, 2008. Pendidikan Matematika pada Anak Usia Dini. Pendidikan Network,Online,
A. LATAR BELAKANG Masalah dasar dan tujuan pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat fundamental dalam pelaksanaan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Dan dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik itu dibawa. Menurut sejarah bangsa Yunani tujuan pendidikannya ialah ketentraman, mereka berpendapat bahwa berperang adalah suatu perkara yang sangat penting untuk kemuslihatan hidupnya atau dunianya. Oleh karena itu mereka sangat mementingkan pendidikan jasmani, agar badan menjadi sehat ,kuat dan tangkas. Diantara lain lagi ada yang berpendapat bahwa perasaan halus dan suka keindahan adalah suatu hal yang utama guna mencapai hidup bahagia, oleh karena itu mereka sangat pula mengutamakan pendidikan yang dapat menumbuhkan perasaan halus dan keindahan seperti seni musik,lukisan,syair dan sebagainya. Dari pernyataan tersebut orang Yunani menganggap pendidikan adalah yang menentramkan diri mereka dengan begitu pendidikan dijadikan sebagai keindahan dan kekuatan diri mereka. Berkaitan dengan tujuan pendidikan, Plato sangat menekankan pendidikan untuk mewujudkan negara idealnya. Ia mengatakan bahwa tugas pendidikan adalah membebaskan dan memperbaharui lepas dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Aristoteles mempunyai tujuan pendidikan yang mirip dengan Plato, tetapi ia mengaitkannya dengan tujuan negara. Ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan haruslah sama dengan tujuan akhir dari pembentukan negara yang harus sama pula dengan sasaran utama pembuatan dan penyusunan hukum serta harus pula sama dengan tujuan utama konstitusi, yaitu kehidupan yang baik dan yang berbahagia eudaimonia. Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan "Pendidikan Nasional bertujuan mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab
makalah fungsi dan tujuan pendidikan